Selamat Datang di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia
Home » » Melihat Allah dengan Tawadhu’

Melihat Allah dengan Tawadhu’

Written By Abul almaududi on Selasa, Mei 29, 2012 | 5/29/2012


"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan. Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (Qolbun Salim).”
(Q.S.Asy-Syuara ayat 82-89)




Ada suatu wacana pertanyaan yang menarik jika kita simak. Jika kita menemui kondisi seseorang yang telah melakukan banyak dosa, ia telah membunuh, memperkosa, mencuri, mabuk, judi, maksiat, melakukan banyak variasi dosa dengan berbagai arachment nafsu duniawi, lalu ada pertanyaan. Lebih baik mana orang itu dengan anda?

Beberapa kali muatan  pertanyaan tersebut penulis lontarkan ke beberapa teman. Tidak sedikit yang menjawab lebih baik dirinya urgeing orang yang berdosa tersebut. Sungguh jika kita merasa lebih baik dengan pendosa tersebut justru kita sedang terjangkit penyakit. Padahal belum tentu orang tadi lebih buruk dari kita. Bisa jadi besok beliau taubat lalu meninggal khusnul khotimah, sedangkan kita sebaliknya.  

Sungguh ada suatu penyakit dimana penyakit itu menghantarkan kita kepada kerusakan tauhid. Penyakit ini sering hinggap dalam hati para ulama, para ahli agama, orang-orang pintar, para penguasa/pejabat, dan orang ‘alim. Penyakit itu adalah penyakit hati yang berusaha melawan esensi kita sebagai makhluk. Penyakit itu adalah ujub.

Ibnul Mubarok pernah berkata, “Perasaan ‘ujub adalah ketika engkau merasa bahwa dirimu memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain”. Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Alloh .”

Ujub yang bercokol dalam hati disebabkan berbagai hal. Tingkatan manusia mencapai level tinggi biasanya lebih rentan untuk terkena penyakit ujub. Pada level atas yang dialami oleh orang pintar, ulama dan sebagainya tentu lebih banyak mendapat pujian, lebih dihargai dari orang lain, lebih dianggab berilmu dari orang lain. Kadang saat tauhid kita melemah hal tersebut menjadi celah hawa nafsu untuk membuat hati berlaku ujub. Membuat kita merasa bangga diri. Merasa lebih dari orang lain. Sehingga kita memandang remeh orang lain.

Ujub dekat dengan kesombongan. Pembanggaan akan diri kita dari orang lain membuat kita merasa lebih baik merasa lebih pantas, merasa lebih pintar. Jika ini dibiarkan akan menyebabkan kita terlena pada pembanggaan diri yang mengarah untuk mengambil selendangnya Allah. Allah berselendangkan kesombongan. Karena hanya Allah lah yang berhak sombong. Jika jiwa yang ujub mengejar sedikit dunia lalu kita mendapatkannya, yang terbesit dalam hatinya adalah bahwa prestasi tersebut berasal darinya, bukan atas kuasa Allah. Jika jiwa yang sombong belajar untuk ujian lalu kita ujian mendapat nilai memuasakan, yang terbesit dalam hatinya adalah bahwa prestasi tersebut berasal darinya, bukan dari Allah. Demikian juga pada harta benda, materi yang kita dapatkan karena ilmu, usaha, dapat juga mengantarkan kepada kesombongan. Seperti kisah Qorun. “Harta ini aku dapatkan karena ilmuku.”(QS.al-Qashash: 78). Ujub dan sombong beda-beda tipis. Bahkan meremehkan oranglain termasuk sombong. Rasulullah SAW  bersabda, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Tentu tidak ada mahluk apapun yang dapat merebut kepunyaan Allah. Karena hakekatnya semua ilmu, urge, materi, waktu, jarak, usaha, urge apapun lainnya semuanya kepunyaan Allah Rabb semesta alam. Namun tidak menutup kemungkinan untuk mahluk mengaku-aku apa yang dititipkan kepadanya itu miliknya. Itulah sombong. Dan Allah tidak suka pada orang yang sombong, dan membanggakan diri.

 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Qashash:83)

Ujub dan sombong merupakan perbuatan yang mengantarkan kepada kerusakan tauhid. Karena keduanya tidak mengembalikan esensinya kepada Allah. Allah pun tegas dalam hal ini. Seperti yang disabdakan Rasulullah,  “Tidak masuk urge orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski sebutir atom.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud ra). Sentak para sahabat kala mendengar pernyataan itu takut.
Tawadhu’ Sebuah Benteng Pertahanan
Sifat ujub dan sombong membuat hati tak nyaman.  Ujub dan sombong tidak mendapat ridho Allah,dan Allah-lah Maha Menguasai Hati, makanya hati tak tentram. Sungguh ketentraman itu kita peroleh dari penyadaran segala sesuatu kembali kepada Allah. Kita lahir karena Allah, mati pun karena Allah. Prof. Zaini Dahlan Sang Guru pun menasehatkan untuk hiduplah bersama Allah. Indahnya hidup bersama Allah. Hidup dengan penyadaran kita hanya sebagai ciptaan, sebagai mahluk. Mahluk yang taat berbuat dan menempatkan posisinya sebagai mahluk, yakni beribadah kepada Allah. Sehingga dalam kehidupan ini, sedetik pun yang kita alami tidak  urg lepas dari Allah. Maka kita tidak boleh lepas dari beribadah kepada Allah. Dalam mengarungi samudra kehidupan itu maka penyadaran mahluk ini akan benar-benar tumbuh saat hati kita sadar esensi dari mahluk, yakni untuk merendahkan dirinya kepada penciptanya. Itulah tawadhu’.

Ibnu Taimiyah, seorang ahli dalam madzhab Hambali menerangkan dalam kitabnya, Madarijus Salikin bahwa tawadhu ialah menunaikan segala yang haq dengan bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar hamba Allah, (bukan hamba orang banyak, bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapa pun) dan tanpa menganggap dirinya tinggi.

Sungguh banyak pembelajaran-pembelajaran dari sirah nabi, shahabat, dan para ulama. Nabi Salallahu’alaihiwasalam menjukkan ketawadhu’an yang luar biasa. Beliau tidak hanya tawadhu’ kepada Allah tapi juga kepada mahluk, walaupun anak kecil. Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian. (HR Bukhari, Fathul Bari’-6247).

Demikian juga kita dapat belajar dari ulama-ulama. Ada salah satu wasiat dari ulama yang dikenal ketawadhu’annya Syeikh Abdul-Qadir al-Jailani. “Apabila kamu melihat dunia berada di tangan pemiliknya dengan segala perhiasan, kebatilan, tipu daya, tempat pencariannya, dan racunnya yang sangat mematikan, disertai dengan lembutnya sentuhan lahirnya, tersembunyi batinnya, cepatnya dalam merusak sesuatu, cepatnya dalam membunuh orang yang. Mencoba untuk menyentuhnya, lalu dia tertipu dan terlalaikan dengan dunia tersebut dari sang pemiliknya dan merusak janjinya, maka jadilah kamu itu seperti orang yang melihat aurat orang lain yang sedang buang hajat di padang dan mencium baunya yang tidak sedap.(Futuhul Ghaib)

Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu : “Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah swt jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku” jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) : “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah swt, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.” Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) : “Dia telah beribadah kepada Allah swt jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.” Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) : “Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.” Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah ( dalam hatimu ) : “Orang ini bermaksiat kepada Allah swt karena dia bodoh ( tidak tahu ), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.” Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah ( dalam hatimu ) : “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, urg jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal saleh. Dan urg jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”

Tawadhu’ adalah benteng dari ujub dan sombong. Tawadhu’ mengantarkan hati tenang karena mencapai fitrah hati yang sebenarnya. Hati yang tunduk kepada Allah. Itulah hati yang selamat. Qolbun salim.

Doa Nabi Ibrahim
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan. Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (Qolbun Salim).” (QS.Asy-Syuara ayat 82-89)
Wallahua’lam.

Ahmad Safarudin
Mahasiswa Ilmu Kimia 2010
Divisi Sistem Informasi dan Produksi TMUA-UII
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !




Ikut Kajian ! ! !

Download Brosure



Informasi Jadwal Kajian & Pelatihan

1. Kajian Aqidah
Bersama Ust. Abdussalam Busyro
Setiap Hari Selasa (*pekan ganjil) Ba'da Maghrib

2. Kajian Pendidikan dalam Islam
Bersama Ust. Fatan Fantastic
Setiap Hari Selasa (*pekan genap) Ba'da Maghrib

3.
Kajian Tafsir Al-Qur'an
Kitab Al-Muyassar
Bersama Ust. Suprianto Pasir, M.Ag
Setiap Hari Rabu Ba'da Maghrib

4. Kajian Tafsir Juz Amma
Bersama Ust. Okrisal Eka Putra, Lc
Setiap Hari Kamis Ba'da Maghrib

5. Kajian Akhlak
Bersama Ust. Abu Abdirrohman
Setiap Hari Jum'at Ba'da Maghrib

6. Pelatihan Tilawatil Qur'an
Bersama Ust. Ngaliman (Qori' Nasional)
Setiap Hari Sabtu Ba'da Maghrib

7. Pelatihan Adzan
Bersama Alumni TMUA UII
Setiap Hari Sabtu & Ahad Ba'da Shubuh


 
Support : Creating Website | Forum Berbagi | Ulil Albab UII
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. : Ulil Albab Cahaya UII : - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Forum Berbagi