Selamat Datang di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia
Home » » Tafsir Surat Al-Baqarah [2] ayat 26-29

Tafsir Surat Al-Baqarah [2] ayat 26-29

Written By van Tovich on Jumat, Februari 27, 2009 | 2/27/2009

Tafsir Surat Al-Baqarah [2] ayat 26-29
Oleh Ust. Supriyanto Pasir, S.Ag, M.Ag.
Rabu 25 Februari 2009

26. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,”

Beberapa keterangan terkait sebab turunnya ayat 26 ini, diantaranya keterangan dari al-Wahidi yang bersumber dari Ibnu Abbas Ra.
bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan surat al-Hajj [22] ayat 73 dan al-Ankabut [29] ayat 41, dengan reaksi kaum munafik berkata : “ Bagaimana pandanganmu tentang Allah yang menerangkan lalat dan laba-laba di dalam al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad, Apakah ini bukan buatan Muhammad?” dengan adanya reaksi itu maka turunlah ayat 26 ini untuk menepis semua keraguan dan ketidak yakinan mereka.

Kekuasaan Allah itu teramat sangat besar, bahkan kebesaran Allah itu tidak akan hilang jika Dia membuat perumpamaan yang dianggap remeh itu. Didahului dengan dua ayat lainnya al-Hajj [22] ayat 73, yang di dalamnya Allah menerangkan bahwa berhala-berhala yang disembah orang kafir itu tidak dapat membuat lalat, sekalipun mereka membuatnya bersama-sama, dan al-Ankabut [29] ayat 41, yang di dalamnya Allah SWT menggambarkan kelemahan berhala-berhala itu sama lemahnya dengan sarang laba-laba.

Ayat ini juga sebagai jawaban bagi siapa saja yang mengingkari adanya perumpamaan mengenai segala sesuatu yang hina dan mempertentangkan Allah tentang masalah itu. Tidak ada pertentangan dalam masalah itu karena merupakan sebagian dari upaya Allah mengajarkan kepada manusia dan merupakan rahmat-Nya bagi mereka yang karenanya seseorang seharusnya menerima dan mensyukurinya. Dalam kenyataannya yang dapat menerima dan mensyukurinya hanyalah mereka yang memiliki iman kepada-Nya dengan sebenar-benar iman. Karena hanya orang yang beriman mampu mengambil hikmah sehingga senantiasa mendapatkan petunjuk.
Makna dari (dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik) adalah bukan karena bentuk kesewenang-wenangan Allah SWT. Karena Allah tidak akan membuat seseorang itu tersesat tanpa ada sebab musababnya. Tidak akan mendapat hidayah orang-orang yang fasiq.

27. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.”
Dan Allah selanjutnya perlu menjelaskan karakteristik orang fasik itu sebagaimana pada ayat 27 ini. Orang-orang fasik itu adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu teguh. Yaitu perjanjian untuk taat dan patuh terhadap aturan-aturan Allah SWT.
Orang-orang fasik itu juga memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menyambungnya. Seperti hubungan kasih sayang (Shilah al-Arhaam) dan hubungan kekeluargaan (al-Qarabaat). Seringkali juga orang-orang fasik itu membuat kerusakan-kerusakan. Baik kerusakan fisik maupun moral.sering menyebarkan fitnah, melakukan maksiat, mengadu dombah dan perbuatan-perbuatan keji lainnya. Semua yang mereka lakukan tidak ada yang membawa kebaikan ataupun manfaat, sehingga merekalah orang yang rugi dan terus merugi.

28. “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”
Sekali lagi Allah mempertanyakan bagaimana mereka tetap menjadi kafir, padahal telah nyta bukti-bukti yang Allah berikan. Allah lah yang menciptakan (al-Khaliq). Kata kaifa pada ayat ini adalah harf istifham li at-taubikh wa al-inkar, atau menurut az-Zamakhsyari al-inkar wa al-ta’ajjub, sehingga dapat dimaknai dengan “bagaimana mungkin” atau “bagaimana bisa kalian kafir”. Allah mengharapkan mereka, kita semua dan siapa pun juga dapat menyadari diri sendiri.
Padahal kita berawal dari ketiadaan (‘adam) kemudian Allah mengadakan kita dari ketiadaan itu dengan perantara kedua orang tua kita. Hingga kita hadir, tumbuh dan berkembang di dunia ini. Dan pada akhirnya kita akan kembali tiada melalui pintu kematian. Kemudian setelah kematian itu, kita akan kembali dihidupkan (dibangkitkan) untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita di dunia.

29. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
Seharusnya kita semua sebagai manusia yang lemah harus sadar. Allah lah yang menjadikan segala yang ada di muka bumi ini untuk kita kelola sebagai sebuah amanah. Hanya Allah yang berhak menjadikan segala sesuatu sebgai sumber kenikmatan bagi manusia, bukan yang lain. Semua fasilitas yang dikaruniakan kepada manusia itu untuk kebaikan manusia. Masih adakah yang kurang?
Allah menciptakan bumi dan Allah juga menciptakan langit. Setelah dia menciptakan bumi dan isinya, selanjutnya Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Kebesaran Allah SWT yang manalagi yang menjadikan alasan manusia untuk ingkar?
Bagi yang beriman kepada Allah, jangan ada sedikitpun rasa ragu. Allah SWt mengetahui semua amal baik yang dilakukannya. Demikian juga terhadap orang-orang yang ingkar. Mereka tidak akan mampu menyembunyikan keingkaran mereka dari Allah SWT, meskipun seakan-akan keingkaran itu telah tersimpat sangat rapi di dalam hati. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. Wallahu a’lam bi as-shawwaab. (qf)

Share this article :

3 komentar:

  1. Bismillahirrohmanirrohiim....
    Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, umur yang manfaat, rizqi yang baroqah, taufiq dan hidayah kepada siapapun yang menulis, membaca dan mengamalkan tafsir al-qur'an ini....
    Aamiiin....

    BalasHapus
  2. Setelah dia menciptakan bumi dan isinya, selanjutnya Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Maaf kalimat itu mana dasarnya bukankah langit dulu baru bumi

    BalasHapus
  3. Setelah dia menciptakan bumi dan isinya, selanjutnya Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Maaf kalimat itu mana dasarnya bukankah langit dulu baru bumi

    BalasHapus




Ikut Kajian ! ! !

Download Brosure



Informasi Jadwal Kajian & Pelatihan

1. Kajian Aqidah
Bersama Ust. Abdussalam Busyro
Setiap Hari Selasa (*pekan ganjil) Ba'da Maghrib

2. Kajian Pendidikan dalam Islam
Bersama Ust. Fatan Fantastic
Setiap Hari Selasa (*pekan genap) Ba'da Maghrib

3.
Kajian Tafsir Al-Qur'an
Kitab Al-Muyassar
Bersama Ust. Suprianto Pasir, M.Ag
Setiap Hari Rabu Ba'da Maghrib

4. Kajian Tafsir Juz Amma
Bersama Ust. Okrisal Eka Putra, Lc
Setiap Hari Kamis Ba'da Maghrib

5. Kajian Akhlak
Bersama Ust. Abu Abdirrohman
Setiap Hari Jum'at Ba'da Maghrib

6. Pelatihan Tilawatil Qur'an
Bersama Ust. Ngaliman (Qori' Nasional)
Setiap Hari Sabtu Ba'da Maghrib

7. Pelatihan Adzan
Bersama Alumni TMUA UII
Setiap Hari Sabtu & Ahad Ba'da Shubuh


 
Support : Creating Website | Forum Berbagi | Ulil Albab UII
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. : Ulil Albab Cahaya UII : - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Forum Berbagi